[ HTML ] [ Java ] [ Bahasa C ]


Rabu, Februari 13, 2019

Alur Logika Penelitian Tindakan Kelas

Alur adalah urutan, sedangkan logika adalah berpikir. Jadi, yang dimaksud dengan alur logika PTK adalah urutan berpikir dari awal hingga akhir dari sebuah penelitian yang dilakukan. Tentu pertanyaan yang akan muncul adalah bagaimana memulai dan mengakhiri PTK?

Untuk memulai sebuah PTK, perlu didahului dengan identifikasi masalah. Identifikasi masalah ini berisikan berbagai permasalah yang dipandang tidak sesuai oleh guru, kurang cocok, kurang memuaskan, dan lain sebagainya. Namun demikian, semua deskripsi mengenai berbagai hal tersebut harus ditunjukkan buktinya secara konkret, misalnya masih rendahnya prestasi peserta didik. Pernyataan ini harus didukung oleh data dari nilai-nilai ujian peserta didik. Contoh lain, temuan identifikasi masalah yang menyatakan bahwa peserta didik kurang termotivasi belajar. Hal ini juga harus dibuktikan dengan data-data lapangan, seperti banyaknya anak yang datang terlambat, mengantuk ketika pelajaran, tidak pernah mengerjakan tugas, dan lain sebagainya.

Bahkan, jika memungkinkan, harus dirinci lagi setiap bukti yang ditampilkan. Misal, banyaknya peserta didik yang terlambat sekian persen, lama peserta didik terlambat sekian menit, jarak dari rumah kesekolah, apa alasannya terlambat, dan sebagainya. Inilah yang disebut dengan identifikasi masalah. Jadi, dalam identifikasi masalah dalam PTK, terdapat dua hal yaitu masalah dan penyebab masalah. Biasanya, permasalahan dituangkan dalam rumusan masalah penelitian, sedangkan penyebab masalah dituangkan dalam latar belakang.

Jika kedua hal ini telah ditemukan (masalah dan penyebabnya), maka pertanyaan kedua adalah tindakan apa yang harus dilakukan oleh guru untuk mengatasi masalah tersebut? Sebelum pertanyaan ini dijawab, harus diingat bahwa tindakan guru disini harus benar-benar merupakan tindakan yang sesuai dengan kapasitas profesionalnya sebagai seorang guru. Jadi, jangan mengambil tindakan yang bukan atau diluar kapasitas guru. Untuk lebih jelasnya, coba Anda simak contoh kasus berikut ini.

Masalah :
Peserta didik tidak pernah mengerjakan tugas atau pekerjaan rumah (PR). Guru harus mampu memaparkan dan menjelaskan bukti-buktinya. Apa saja tugas yang tidak dikerjakan, kapan peserta didik tidak mengerjakan tugas, berapa banyak tugas yang tidak dikerjakan, dan lain sebagainya.

Latar belakang atau penyebabnya (kemungkinan):
satu, Tugas yang diberikan terlalu monoton dan tidak pernah dibahas bersama secara tuntas.
dua, Tugas terlalu sulit bagi peserta didik.
tiga, peserta didik terlalu banyak menonton acara televisi sehingga mengabaikan tugas belajar.
empat, Peserta didik terlalu banyak bermain sehingga ia tidak punya waktu untuk mengerjakan tugas sekolah.

Tindakan apakah yang paling relevan dilakukan oleh guru atas permasalah sebelumnya? Dalam hal ini, guru harus mencari solusi yang berkaitan dengan permasalahan itu sendiri, bukan malah berkutat pada latar belakang atau penyebab munculnya masalah. Hal ini karena sering kali faktor-faktor penyebab itu tidak dapat dijangkau oleh guru. Sekadar contoh, dua penyebab pertama munculnya permasalahan sebagaimana disebutkan diatas dapat diatasi oleh guru, misalnya dengan membuat tugas rumah yang lebih kreatif, kemudian membahasnya secara tuntas secara bersama-sama. Hal ini agar peserta didik tidak bosan dan lebih memahami materi. Disamping itu, guru hendaknya juga dapat mengukur seberapa tinggi kemampuan peserta didik dalam menguasai materi pelajaran, sehingga tugas-tugas yang diberikan tidak terlalu memberatkan.

Hal ini berbeda dengan dua penyebab yang terakhir. Mengapa bisa demikian? Perhatikan penejasan berikut. Penyebab ketiga, yakni peserta didik terlalu banyak menonton acara televisi, sehingga ia mengabaikan tugas belajar. Guru tidak dapat mengatasi masalah ini karena ia tidak mungkin datang kerumah peserta didik setiap hari hanya untuk mengingatkan dan mengawasi peserta didik agar tidak menonton televisi terlalu lama. Guru hanya bisa menghimbau para orang tua untuk mengawasi anak-anaknya agar tidak terlalu banyak menonton televisi.

Sementara untuk penyebab nomor empat, yakni peserta didik terlalu banyak bermain sehingga kehabisan waktu untuk mengerjakan tugas sekolah. Permasalahan ini juga tidak dapat diatasi oleh guru sepenuhnya, sebab tidak mungkin guru mengontrol jam bermain peserta didiknya diluar jam sekolah. Guru hanya bisa menghimbau pada para orang tua untuk mengawasi dan membatasi agar para peserta didik tidak terlalu banyak bermain.

Namun demikian, guru harus tetap berupaya mencari cara untuk mengatasi persoalan ini. Sebagaimana disebutkan sebelumnya, beberapa hal yang masih dapat dilakukan guru, misalnya, adalah dengan memodifikasi tugas belajar yang biasa menjadi lebih menarik dan menantang. Guru harus kreatif sehingga peserta didik terpacu untuk mengerjakan pekerjaan rumah, ketimbang menonton televisi atau bermain. Disamping itu, guru juga harus membahas setiap tugas bersama-sama dikelas. Upayakan untuk melakukan pembahasan tugas dengan metode pengerjaan tugas yang unik, yang memudahkan sehingga peserta didik lebih senang dan termotivasi untuk menyelesaikan tugas yang telah diberikan.

Guru boleh saja, bahkan wajib, menghimbau para orang tua peserta didik agar membatasi jam menonton televisi dan jam bermain anak-anaknya. Namun, imbauan utama seharusnya ditujukan kepada diri para peserta didik sendiri. Pikirkan cara-cara yang unik dan kreatif, lebih bagus lagi bila tidak terkesan menggurui, agar peserta didik memiliki kesadaran diri tentang tanggung jawab dan kewajibannya. Bersama-sama dengan pengawasan dari orang tua dan imbauan dari guru, peserta didik harus mampu menyadari pentingnya memanfaatkan waktu untuk belajar.

Contoh kesalahan lain yang sering dilakukan oleh guru adalah, ketika guru menemukan masalah berupa rendahnya prestasi belajar peserta didik. Ia lalu menemukan bahwa penyebabnya adalah ketiadaan buku ajar yang memadai, sarana prasarana kelas yang serba terbatas, dan kemampuan pemahaman materi para peserta didik yang cenderung rendah. Kemudian, guru mengambil tindakan dengan mengusulkan pengadaan buku ajar dan peningkatan fasilitas belajar kepada kepala sekolah. Tindakan seperti ini jelas bukan 'tindakan' yang dikehendaki dalam penelitian tindakan kelas.

Tindakan seperti ini adalah solusi yang walaupun praktis namun tidak mendidik. Guru seharusnya mampu berpikir kreatif untuk tetap membuat para siwa dan siswinya tetap dapat berprestasi walaupun dalam keadaan yang serba terbatas. Telah banyak contoh kasus yang menunjukkan betapa keterbatasan bukan merupakan penyebab utama kegagalan belajar para peserta didik.

Salah satu contoh lain, sering kali guru sudah merasa bertindak padahal sebenarnya ia belum melakukan apapun. Contonya, seorang guru mengidentifikasi bahwa ada hubungan yang signifikan antara motivasi dan prestasi belajar peserta didik. Kemudian, guru tersebut melakukan PTK dengan mengambil tema utama "Korelasi antara Motivasi dan Prestasi Belajar". Pada contoh ini, mungkin guru telah merasa 'bertindak' karena ia telah menyusun angket motivasi dan mengecek daftar nilai atau prestasi peserta didik.

Kemudian, angket itu disebarkan kepada para peserta didik sehingga diperoleh data untuk kemudian diolah dengan menggunakan statistik. Dari situ akan didapat kumpulan informasi yang berupa indeks korelasi. Pada titik ini, guru lalu merasa puas karena ia menganggap penelitiannya itu telah berhasil. Ia tidak menyadari kalau penelitiannya itu belum memberikan manfaat yang berarti bagi peningkatan prestasi belajar peserta didik. Padahal, tujuan utama dari dilakukannya PTK adalah untuk memperbaiki metode dan proses pembelajaran. Jika demikian keadaannya, PTK model seperti ini sesungguhnya bukanlah PTK yang sesungguhnya, sebab tidak ada kebermanfaatan atau solusi yang muncul dari hasil penelitiannya.

Bagaimana cara melakukan PTK dengan baik dan benar? Hal pertama yang harus dilakukan adalah guru harus menaati alur PTK yang baik dan benar. Secara sistematis, Arikunto (2006) telah membuat skema alur PTK yang baik dan benar sebagai berikut (gambar 1).


DAFTAR RUJUKAN

Arikunto, Suharsimi, et al. (2006). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.

9 komentar:

  1. Sikap seperti apa yang perlu dikembangkan oleh seorang guru supaya bisa memahami permasalah yang adalah dilingkungan sekolah dengan lebih peka?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banyak bertanya dengan teman sesama guru. Tanyakan apapun yang kita ketahui terkait tentang sistem pengajaran yang kita lakukan? Topik apa yang diminati antara kita dan guru lainnya? Apakah terdapat masalah yang terjadi pada area pembahasan tersebut baik dari aspek pengajaran/pembelajaran yang tidak kita sendiri tidak terlalu yakin.

      Buat list dari berbagai permasalahan yang telah dikumpulkan tersebut. Dari berbagai daftar list yang sudah dicatat mulailah melakukan pengelompokkan dan tentukan kenapa hal tersebut layak diangkat sebagai masalah penelitian. Lakukan diskusi setelah menentukan satu atau dua bentuk permasalahan serta alasan kenapa melakukannya. Apa manfaat jika telah menyelesaikan permasalahan tersebut baik bagi peserta didik ataupun guru?

      Setelah yakin dengan permasalah yang akan ditentukan, buatlah beberapa pertanyaan terkait permasalahan tersebut, guna memandu kita dalam tahapan selanjutnya yang akan dilakukan.

      Hapus
    2. Lakukan perenungan jika menemukan sebuah topik masalah. Mulai dari mana kita bisa melakukan pencarian informasi untuk membantu dalam kegiatan perencanaan penelitian? Apakah perlu mencarinya melalui internet atau sumber informasi lainnya? Cari topik ataupun informasi terkait masalah yang dapat membantu dalam perencanaan dan bagaimana melakukan kegiatan PTK tersebut.

      Hapus
    3. Lakukan perencanaan:
      Berapa lama sih PTK tersebut akan dilakukan?

      Bagaimana sih cara pendokumentasian selama kegaitan tersebut?

      Hapus
    4. Gunakan berbagai metode seperti:

      1. Peer Observation
      2. Teacher diary
      3. Pembelajaran Umpan Balik
      4. Evaluasi Pembelajaran
      5. Kegiatan perekaman
      6. Refleksi pembelajaran
      7. Metode survei

      Pilih metode yang paling tepat untuk digunakan pada kegaitan PTK.

      Hapus
    5. Lakukan kegiatan Riset bersama, baik itu dengan sesama guru ataupun dengan rekan peneliti yang lain. Hal ini bermanfaat karena bisa memberikan kita lebih banyak data untuk jadi bahan perenungan, perbandingan, dan juga bahan diskusi.

      Hapus
    6. Lakukan analisis terhadap topik masalah,

      melalui berbagai jenis data yang telah dikumpulkan dalam kegaitan penelitian kemudian lakukan proses refleksi, pengorganisasian, dan peninjauan data yang telah dikumpulkan untuk membantu menjawab topik pertanyaan yang diteliti. Apa saja yang telah ditemukan selama kegiatan penelitian? Wawasan apa saja yang telah didapat? Serta hasil apa yang ditunjukkan oleh kegiatan penelitian tersebut?

      Hapus
    7. Jika melakukan PTK secara sendiri, coba bagikan hasil penelitian tersebut dengan beberapa teman anda. Kemudian lakukan perenungan bersama. Apakah kegiatan yang dilakukan dalam penelitian tersebut memang bisa membantu memberikan solusi atas permasalah nyata dalam dunia pendidikan atau tidak?

      Hapus
    8. Selalu lakukan review guna meninjau dampak dari perubahan yang telah dilakukan dalam kegiatan penelitian. Seberapa besar dampak yang ditimbulkan dari kegiatan tersebut? Apakah perlu dilakukan penelitian lanjutan lagi atau tidak? Serta apakah terdapat perbedaan hasil penelitian antara anda dan rekan anda dalam kegiatan penelitian tersebut?

      Hapus

Respon komentar 7 x 24 jam, so please be patient :D