Jumat, Februari 19, 2021

Membeli Rumah

Memiliki rumah merupakan mimpi hampir semua orang, apalagi untuk seorang PNS atau guru. Hal tersebut sudah seperti ritual wajib yang harus dipikirkan dan dilakukan guna mencapai kematangan finansial, benarkah?

Tidak bisa dipungkiri, penulis sendiripun juga menghadapi tekanan yang sama, baik itu berasal dari lingkungan tempat kerja, lingkungan keluarga, bahkan pasangan sendiri. Dan hasilnya pun sukses besar untuk membuat penulis 'galau', dan terpaksa keliling-keliling untuk mencari informasi perumahan-perumahan dari berbagai sumber informasi baik secara online ataupun survei langsung di lapangan.

 

Mengapa bisa demikian? dengan penghasilan atau gaji yang selalu dibayarkan secara tetap oleh negara, seorang PNS memang bisa mendapatkan akses yang lebih mudah untuk mengajukan KPR ke pihak bank terkait. Dari pihak bank pun juga tidak perlu meninjau terlalu lama terkait ijin pengajuan tersebut, selama lokasi perumahan yang akan dibeli tidak terkendala masalah administrasi apapun, proses pengajuan KPR akan selalu berjalan dengan lancar. Kondisi inilah yang membuat banyak sekali Pegawai-pegawai pemerintah yang langsung berusaha untuk membeli rumah baik itu sebagai tempat tinggal ataupun juga sebagai aset atau alat investasi.

Sudah dapat, belum...sampai artikel ini dibaca orang lain, masih belum dapat haha...

Terkait masalah beli rumah, penulispun juga kembali teringat tentang sebuah film The Big Sort (Google Translate: Pintasan besar) yang pernah di tonton dulu, dibintangi oleh aktor utama Christian Bale sebagai Dr.Michael Burry, Ryan Gosling, Brad Pitt dan bintang-bintang lainnya, film inipun berkisah tentang bagaimana kronologi terjadinya Bubble Housing (Krisis ekonomi di sektor perumahan) di Amerika Serikat yang terjadi sekitar tahun 2008 silam, dimana banyak sekali kredit-kredit perumahan di Amerika yang mengalami gagal bayar dan berakhir sebagai sebuah krisis besar bagi negara tersebut. Film ini juga yang membuat penulis untuk kembali menimbang-nimbang apakah harus segera membeli rumah atau menunggu beberapa tahun dulu sampai tabungan sudah terkumpul.  

Sebelum lanjut cerita masalah beli rumah, penulis juga ingin menjelaskan kronologi terjadi Housing Bubble di Amerika tersebut, namun karena penulis cuma seorang guru TIK bukan seorang pakar Ekonomi, maka penjelasannya akan coba di narasikan melalui sebuah cerita yang di perankan oleh Mr. Bank sebagai tokoh yang mewakili pihak atau korporasi bank yang memiliki sifat 'SERAKAH', Mr. Super Kaya I, Mr. Super Kaya II, dan Mr. Super Kaya III yang berperan sebagai tokoh yang mewaliki kalangan elit 1% yang memiliki uang atau harta superbanyak dan juga memiliki sifat 'SERAKAH', Mr. Pengusaha yang berperan sebagai tokoh yang mewakili para pengusaha yang sedang merintis usaha dengan kekayaan yang masih berkembang yang sebagian besar memiliki sifat 'SERAKAH', dan Mr. Rakyat Jelata I, Mr. Rakyat Jelata II, dan Mr. Sobat Miskin yang berperan sebagai tokoh masyarakat pada umumnya yang sangat 'BERNAFSU' untuk membeli rumah.

Dahulu kala, Mr. Super Kaya I, Mr. Super Kaya II, dan Mr. Super Kaya III bisa meningkatkan kekayaannya secara berlipat dengan cara membeli surat hutang (obligasi pemerintah) yang dijual oleh Federal Reserve (BI nya Amerika) dengan tingkat bunga yang menguntungkan, kala itu ketika ekonomi Amerika masih aman-aman saja, setelah masuk jaman dot com, masa dimana mulai banyak muncul perusahaan-perusahaan online (berbasis .com). Tiba-tiba, perusahaan-perusahaan Dot Com tersebut pun mengalami kebangkrutan, BOOM... akhirnya banyak perusahaan-perusahaan yang nilai sahamnya turun secara drastis dan kemudian berakhir krisis, mengantisipasi kerugian yang lebih parah, Pemerintah akhirnya membuat sebuah kebijakan ekonomi, dimana tingkat kredit (kredit rating pemerintah) Federal Reserve diturunkan hingga 1%.

Dampaknya, 

Mr. Super Kaya I, Mr. Super Kaya II, dan Mr. Super Kaya III yang biasa jadi pembeli tetap obligasi yang dikeluarkan Federal reserve kemudian mulai tidak mau membeli produk obligasi yang ditawarkan pemerintah tersebut (gamau ngutangi pemerintah lagi, males untungnya kecil), alasannya, karena tingkat kredit yang menurun tersebut, artinya keuntungan yang akan didapatkan juga menurun. 

"Buat apa minjamin pemerintah banyak uang, terus baru dibalikin setelah bertahun-tahun, malah untung yang didapat cuma 1%". 

Namun, hal ini berlaku sebaliknya bagi Mr.Bank, dengan turunnya tingkat kredit yang diberikan oleh Federal reserve, artinya Mr.Bank bisa pinjam uang dalam jumlah banyak ke Federal Reserve, dan ketika waktu pengembaliankannya tiba, Mr. Bank tidak perlu khawatir karena tinggal mengembalikan uang sebesar yang dipinjam + keuntungan bunga 1% saja (murah). Karena kemudahan ini, akhirnya Mr. Bank bisa melakukan ekspansi besar-besaran untuk usaha pinjamannya (RIBA') tanpa perlu khawatir kehabisan uang. Disinilah mulai muncul masalah pertama, Leverage.

Masalah pertama, Leverage, sebelum ceritanya dilanjut, terlebih dahulu mari kita pahami apa yang dimaksud dengan leverage. Contoh, si A mau membeli barang dengan harga IDR 10.000, kemudian menjualnya lagi dengan harga IDR 11.000, maka jika barangnya telah laku maka si A dapat untuk sebesar IDR 1.000 dari hasil penjualan. Tapi bagaimana jika si A ingin dapat untuk sebesar IDR 5.000, maka si A harus punya modal sebesar 50.000 dan kemudian menjual barangnya seharga IDR 55.000. Namun bagaimana jika uang si A cuma ada 10.000, maka jawabannya adalah pinjam orang lain. Si A pinjam uang dengan si B sebesar 50.000, dengan catatan, uang yang dipinjam tersebut akan dikembalikan beserta 'uang balas jasa' sebesar IDR 1.000. 

Artinya A pinjam 50.000, balikin sebesar 51.000.

Dengan tambahan uang pinjaman, maka total uang yang dimiliki si A sekarang adalah 60.000 (uang A + uang pinjam B), kemudian si A kembali membeli barang dengan modal tersebut dan menjualnya dengan harga 66.000, maka si A sekarang sudah mendapatkan keuntungan kotor. Setelah dikurangi modal awal dari uang A sendiri (IDR 10.000), dan uang pinjaman B + bunga (IDR 50.000+1.000), maka keuntungan bersih yang didapatkan oleh A sekarang adalah 5000. Keuntungan inilah yang disebut dengan leverage. Masalahnya dimana? masalahnya bagaimana jika produk yang dijual oleh si A dengan harga 66.000 tersebut tidak laku, maka kerugian yang akan ditanggung oleh si A juga akan berlipat dari modal awal sebelumnya. Artinya, perubahan kebijakan terhadap Federal Reserve tersebut pun juga turut berbegaruh pada pergeseran sistem ekonomi di negara paman SAM tersebut, dimana sistem awal ekonomi Amerika yang semula dibangun dengan perhitungan modal dan keutungan yang seimbang, kemudian beraling ke sistem ekonomi berbasis HUTANG yang berbunga (RIBA').

Kembali kecerita sebelumnya, dengan peluang yang didapatkan Mr. Bank untuk meminjam uang dengan tingkat pengembalian bunga yang rendah, maka Mr. Bank pun melakukan peminjaman uang besar-besaran kepada Federal Reserve. Federal Reserve yang melihat hal inipun juga tidak keberatan meminjami uang, toh juga jauh lebih menguntungkan, karena bisa dapat kelebihan dari uang yang dipinjamkan, ketimbang ngutang terus-terusan ke Mr. Super Kaya I, Mr. Super Kaya II, dan Mr. Super Kaya III lewat Obligasi. 

Tidak seperti Mr. Super Kaya I, Mr. Super Kaya II, dan Mr. Super Kaya III, Mr. Pengusaha yang tingkat kekayaannya masih berkembang, mereka masih harus mengembangkan kekayaannya dengan cara berbisnis, dimana salah satu peluang bisnis yang kala itu sangat laris adalah bisnis jual beli rumah. Mr. Pengusaha dengan menggunakan modal uang yang dimilikinya kemudian membangun sebuah rumah, dan kemudian menjualnya kepada Mr. Rakyat Jelata. Mr. Rakyat Jelata sangat ingin sekali punya rumah karena baru menikah dan sudah bekerja disalah satu instansi pemerintah dengan gaji tetap. Kemudian terjadilah transaksi antara Mr. Pengusaha, dan Mr. Rakyat Jelata. Cuan...,

Hanya saja Mr. Pengusaha adalah orang yang SERAKAH. Meskipun sudah mendapat untung dari hasil penjualan rumahnya, tetap saja Mr. Pengusaha merasa tidak puas dengan keuntungan yang didapatkan, karena modal pembangunan dan pemasaran yang dikeluarkan agar produk rumah tersebut laku adalah tidak sedikit, serta waktu yang dibutuhkan untuk menjualnya juga lama, disamping itu Mr. Pengusaha juga iri dengan Mr. Super Kaya I, Mr. Super Kaya II, dan Mr. Super Kaya III yang sudah memiliki aset kekayaan yang sangat banyak. Mr. Pengusaha pun akhirnya berpikir dan kemudian menemukan solusi, dimana jika ingin mendapatkan keuntungan jual beli rumah dalam jumlah yang BANYAK maka Mr. Pengusaha juga harus membuat rumah dalam jumlah yang banyak pula, namun ada kendala, ternyata modal yang dimiliki Mr. Pengusaha tidak cukup untuk bisa membuat rumah dalam jumlah banyak tersebut. 

Solusinya gimana??  Pinjam uang, 

Mr. Bank yang mendengar cerita inipun tidak tinggal diam, "hmm... sepertinya aku mencium bau uang, heheh", 

Mr. Bank pun kemudian menelepon Mr. Pengusaha untuk menawari pinjaman untuk membangun rumah dalam jumlah besar dan tentunya dengan 'sedikit imbal jasa' kepada Mr. Bank. Tertarik dengan hal tersebut, kemudian Mr. Pengusaha sepakat dan kemudian meminjam uang dengan Mr. Bank, dan tentunya dengan 'sedikit imbal jasa' yang diberikan kepada Mr. Bank yang disepakati sesuai dengan perjanjian hukum yang berlaku. Dengan uang pinjaman tersebut, kemudian Mr. Pengusaha dapat membangun rumah dalam jumlah yang lebih banyak dan memasarkannya. cuan..cuan..

Setelah dilakukan pemasaran, pembeli pun mulai banyak tertarik untuk membeli rumah yang telah dibuat oleh Mr. Pengusaha, salah satunya adalah Mr. Rakyat Jelata II. Tapi, Mr. Rakyat Jelata II memiliki kendala dimana ia tidak mampu untuk membayarnya secara tunai atau langsung, sedih, tapi Mr. Pengusaha pun juga tidak bisa mengusahakan apa-apa, karena Mr. Pengusaha sendiri ingin modal pinjamannya segera dikembalikan kepada Mr. Bank karena jika terlambat, maka uang 'imbal jasa' yang disepakati dalam perjanjian akan telat dibayarkan dan jumlah tunggakannya akan semakin besar (BUNGA RIBA'). Mr. Bank yang memiliki saya 'rasa empati' yang begitu tinggi, kemudian mendengar keluhan dari Mr. Rakyat Jelata II tersebut dan kemudian mau meminjaminya uang untuk membeli rumah, tentunya dengan sedikit 'imbal jasa' dan jaminan jika Mr. Rakyat Jelata II gagal melunasi semua pinjamanya kepada Mr. Bank, maka rumah yang telah ia beli dari Mr. Pengusaha menjadi milik Mr. Bank (fox). Sistem ini yang kemudian dikenal dengan istilah Prime Mortgage, atau di Indonesia kita mengenalnya dengan sebutan KPR (Kredit Perumahan Rakyat).

Dengan membuat perjanjian antara Mr. Rakyat Jelata II dan Mr. Bank, akhirnya rumah yang diinginkan Mr. Rakyat Jelata II bisa dibeli. Semuapun akhirnya merasa senang, Mr. Rakyat Jelata II bisa memiliki rumah tanpa harus membayar tunai dan Mr. Bank juga bisa mendapatkan keuntungan dari hasil pinjamannya, serta usaha Penjualan rumah Mr. Pengusaha pun terus berkembang dan hutangnya kepada kepada Mr. Bank dapat dilunasi.

Melihat semua perkembangan tersebut Mr. Super Kaya I, Mr. Super Kaya II, dan Mr. Super Kaya III pun hanya bisa menelan ludah, meski sama-sama ingin mendapatkan keuntungan tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Sampai suatu hari ada laporan dari pegawai Mr. Bank bahwa salah satu klien Prime Morgage-nya gagal bayar, atau tidak bisa melunasi rumah terebut sama sekali. Mr. Bank pun kemudian berkata: 

Mr. Bank: "Santuy, klo KLIEN tersebut gagal bayar tinggal disita saja rumahnya, kan kita tetap untung, hohohohoooo..."
Pegawai : "Siap Mr. Bank, safe!!"

Keesokan harinya,

Pegawai : "Mr. Bank, ada laporan lagi kalau salah satu KLIEN Prime Morgage kita ada yang gagal bayar, tapi rumahnya sudah disita untuk mengamankan keuntungan bank, safe!!"

Namun, melihat kejadian kedua tersebut Mr. Bank bukannya malah tenang, tapi malah khawatir, dia berpikir, bagaimana jika tiba-tiba semua klien yang meminjam uangnya gagal bayar, berarti semua rumahnya akan menjadi milik Mr. Bank. Artinya, uang yang dipinjam Mr. Bank dari Federal Reserve hanya akan berubah menjadi beton yang tidak menghasilkan apa-apa dan bahkan malah menambah beban bagi Mr. Bank karena memiliki terlalu banyak rumah yang harus ditanggung beban pajaknya secara berkala.

Kemudian muncul ide!!!!

Karena Mr. Bank adalah orang yang serakah dan tidak mau kehilangan uang yang telah ia pinjam dari Federal Reserve sedikitpun, akhirnya Mr. Bank kemudian mengumpulkan semua surat perjanjian hutang atau pinjaman yang dimilikinya ke dalam sebuah kotak. Setelah terkumpul semua, kemudian Mr. Bank mengelompokkan tiap lembar kertas perjanjian tersebut ke dalam tiga kategori, yaitu, kategori satu (label AAA) berisi surat perjanjian dengan para klien yang selalu membayar tepat waktu yang diberi label aman, kategori dua (label BBB) berisi surat perjanjian dengan para klien yang selalu membayar tapi kadang suka telat, dan kategori ketiga (tanpa label) atau kategori terakhir adalah berisi surat perjanjian dengan para klien yang punya resiko gagal bayar atau macet. Ketiga kategori tersebut yang kemudian dikenal sebagai Collateralized Debt Obligation (CDO). 

Masalah Kedua, Collateralized Debt Obligation sejenis surat utang turunan atau derivatif yang menggunakan kumpulan surat utang lain sebagai jaminan. Artinya, Mr. Bank membuat sebuah produk obligasi seperti yang dimiliki oleh Federal Reserve, kemudian menawarkannya kembali kepada orang lain. Sederhananya, Mr. Bank berhutang dengan menggunakan surat hutang. Hutang yang dihutangkan lagi,... gali lobang.. tutup lobang...., tujuannya adalah supaya uang yang dipinjam dari Federal Reserve tidak langsung habis, biar ada cadangan,,

Setelah selesai mengelompokkan surat-surat hutang yang dimilikinya Mr. Bank selanjutnya menghubungi Mr. Super Kaya I, Mr. Super Kaya II, dan Mr. Super Kaya III untuk menawarkan produk obligasinya tersebut. Mereka bertigapun akhirnya tertarik untuk mendengarkan, karena pada dasarnya mereka juga merasa iri dengan Mr. Bank karena bisa mendapatkan keuntungan dari kebijakan terhadap Federal Reserve, sedangkan mereka bertiga tidak. 

Kepada mereka bertiga pun Mr. Bank kemudian menawarkan produk CDO nya tersebut.

Mr. Bank : "Sengaja hari ini saya ingin bertemu dengan anda semua, karena hari ini saya ingin memasarkan sebuah produk bernama CDO. Produk ini terbagi ke dalam tiga kategori, yaitu kategori satu, kategori dua, dan kategori tiga...bla..bla..blaa..".

Mr. Super Kaya I: "menarik.."

Mr. Super Kaya II: "menarik.."

Mr. Super Kaya III: "menarik.."

Mr. Bank : "Kepada Mr. Super Kaya I, karena saya tahu anda adalah orang yang selalu menginginkan bentuk investasi yang paling aman meskipun nilai keuntungannya kecil maka saya menawarkan produk CDO kategori I, dengan tingkat kredit yang saya berikan adalah 3%" (RIBA')"

Mr. Super Kaya I: "menarik.."

Mr. Bank : "Kepada Mr. Super Kaya II, karena saya tahu anda adalah orang yang juga sama-sama memiliki usaha bank seperti saya maka, saya sangat tahu jika anda adalah orang yang teliti dan tidak terlalu bermasalah dengan sedikit resiko gagal bayar, maka saya menawarkan anda produk CDO kategori II, dengan tingkat kredit yang saya berikan adalah 7%" (RIBA')"

Mr. Super Kaya II: "menarik.."

Mr. Bank : "Dan untuk Mr. Super Kaya III, sejujurnya saya baru bertemu anda saat ini, tapi saya sudah sempat mendengar tentang kepiawaian anda dalam berbisnis (a.k.a risk taker), sebagai orang yang selalu bersemangat untuk mendapatkan keuntungan terbesar maka saya menawarkan anda CDO kategori III, dengan tingak kredit yang saya berikan adalah 10%  (RIBA')", dalam hati Mr. Bank pun berkata, "tentunya dengan resiko yang paling besar pula, hahahaha"

Mr. Super Kaya III: "menarik.."

Mr. Super Kaya I: "Sebagai seorang yang telah berpengalamn di dunia investasi, dan sudah memiliki banyak sekali aset besar. Saya tidak ingin aset yang saya miliki saat ini menurun nilainya. Jadi Mr. Bank, jika saya mau membeli CDO kategori I yang anda tawarkan, apakah saya bisa mendapatkan jaminan keamanan lebih dari obligasi yang akan saya beli tersebut?"

Mr. Bank yang penjualannya tidak mau gagal, kemudian memiliki ide lain, dia mengatakan, kepada Mr. Super Kaya I,

Mr. Bank: "Ho tentu saja ada Mr. Super Kaya I, untuk memastikan produk yang akan anda beli aman saya sudah mempersiapkan asuransi untuk produk CDO kategori I tersebut, anda cukup membayar sedikit biaya berkala kepada kami (premi asuransi) sebagai jaminan, dan jika terjadi kerugian dengan produk CDO kategori satu tersebut, maka anda akan mendapatkan uang ganti rugi yang jauh lebih besar daripada nilai investasi awal yang anda keluarkan sekarang, dan tentunya sesuai dengan perjanjian dan peraturan hukum yang berlaku, safe". Dalam hati Mr. Bank berkata, "yeyy, untung double nehh,"

catatan: Asuransi yang ditawarkan oleh Mr. Bank kepada Mr. Super Kaya I tersebut adalah yang dikenal dengan istilah Credit Default Swab (CDS).

Mr. Super Kaya I pun akhirnya tersenyum, dan akhirnya sepakat untuk membeli CDO kategori I dalam jumlah yang sangat besar, serta bersedia membayar uang asuransi sebagai jaminan kemananan investasi obligasinya, Mr. Super Kaya II dan Mr. Super Kaya III yang terkenal sebagai orang yang selalu mengejar keuntungan sebesar-besarnya merasa tindakan yang dilakukan oleh Mr. Super Kaya I tersebut adalah hal yang bodoh dan sangat tidak realistis. Mereka berdua pun akhirnya juga ikut membeli CDO kategori II dan CDO kategori III namun tidak melakukan pembayaran CDS. 

Mr. Super Kaya II: "ngapain beli CDS nya juga, nambah2hin pengeluaran, bodoh, lagian kita ini bicara masalah perumahan.. kan sudah jelas untungnya bakal naik terus, kan peminatnya sangat banyak"

Mr. Super Kaya III: "hahaha... bodoh, ternyata semakin banyak uang, otak juga semakin bodoh, hahahaaa" 

akhirnya semua merasa senang,

Pembeli rumah bisa membeli rumah dengan biaya yang dapat diangsur melalui Mr. Bank, penjual rumah dapat menjual rumah dengan biaya pinjaman Melalui Mr. Bank, Mr. Bank pun tetap bisa memberikan pinjaman tanpa harus takut uang yang dimilikinya akan habis ataupun mengalami rugi, dan para investor pun merasa senang karena kembali bisa menginvestasikan uang nya dalam bentuk obligasi dan tentunya dengan tingkat keuntungan yang lebih besar daripada yang ditawarkan Federal Reserve (cuma 1%).

Namun semua itu berubah saat (negara api menyerah) salah satu karyawan pemasaran Mr. Pengusaha menelpon dan mengatakan bahwa jumlah yang mau beli rumah sudah habis, soalnya rata-rata sudah punya rumah semua, sisanya cuma klien-klien dari lingkungan ekonomi menengah kebawah dengan tingkat resiko gagal bayarnya tinggi. Hal tersebut pun kemudian disampaikan oleh Mr. Pengusaha kepada Mr. Bank. Mendengar hal tersebut, Mr. Bank yang awalnya baru mulai menikmati zona nyamannya tiba-tiba harus berpikir lagi, jika klien yang mau membeli rumah sudah tidak ada, artinya pemasukkan untuk Mr. Bank juga sudah tidak ada, tidak hanya itu, Mr. Pengusaha pun juga tidak akan mau meminjam uang lagi untuk membuat rumah, dan para investor yang telah membeli obligasi Mr. Bank pun kemudian juga akan berhenti. Rugi..rugi..

Karena Mr. Bank adalah orang yang serakah, akhirnya Mr. Bank pun menurunkan standar KPR (Prime Morgage) untuk orang yang bisa mengajukan pinjaman kepadanya, namun, supaya tetap terlihat profesional dan memiliki nilai jual, produk pinjaman tersebutpun kemudian diberi nama lain, yaitu SUB PRIME MORGAGE. Di sinilai masalah kegita muncul, dan sekaligus memicu bom waktu krisis perumahan di Amerika Serikat. 

Masalah ketiga, Sub Prime Morgame, merupakan bentuk pinjaman di Amerika diberikan kepada konsumen yang memiliki kelayakan kredit kurang dari cukup. Kenapa hal ini jadi masalah? Artinya Mr. Bank menurunkan standar pinjaman bagi para KLIENNYA, karena standar pinjaman yang ditetapkan menurun, maka resiko pinjaman (bakal rugi) otomatis juga menjadi naik, karena orang-orang yang diberikan pinjaman tidak sesuai standar kualifikasi yang sebenarnya.

Hal inipun kemudian disampaikan kembali ke Mr. Pengusaha. Mendengar hal tersebut, Mr. Pengusaha pun juga kembali senang dan kembali meneruskan pembangunan rumahnya untuk dipasarkan kepada para kliennya. Setelah dilakukan pelonggaran kebijakan oleh Mr. Bank untuk meminjam uang, salah satu klien yang beminat adalah Mr. Sobat Miskin, dia adalah seorang imigran dari somalia yang saat ini bekerja sebagai tenaga kebersihan di salah satu perusahaan di Amerika dan sudah pasti salah satu mimpi terbesarnya adalah ingin memiliki rumah di Amerika. Tidak hanya itu, teman-teman dari Mr. Sobat Miskin pun kemudian juga ikut membeli rumah dengan sistem pinjaman. Karena jumlah pinjaman yang semakin bertambah banyak, maka pekerjaan Mr. Bank untuk melabeli CDO nya juga jadi tambah banyak.

Mr. Bank: "Capek juga nih, melabeli produk-produk CDO saya tiap hari, kayak gini biar santuy mending bayar orang ajalah."

Mendengar hal tersebut, kemudian pegawai Mr. Bank diperintah untuk membuat iklan lowongan sebagai tenaga pelabel untuk produk CDO yang dimiliki Mr. Bank, kemudian datanglah dua orang.

Mr. Lembaga Peranking A: "Jika saya diterima dalam lowongan kerja ini, maka saya akan menerapkan sistem perankingan (label) sesuai dengan standar dan disimplin ilmu yang telah saya pelajari, agar para investor bisa membeli dengan bijak produk mana yang akan mereka pilih"

Mr. Lembaga Peranking B: "Jika saya diterima dalam lowongan kerja ini, maka saya bisa menyediakan jenis rangking (label) apapun sesuai dengan kemauan Mr. Bank, apalagi melihat semua jenis produk CDO yang anda miliki, sudah pasti semuanya berkualitas  dan memiliki tingkat rangking yang sangat tinggi"

Mr. Bank: "Baiklah, saya sangat suka dengan presentasi anda berdua, dan karena saya adalah sosok yang selalu bijak dalam memilih, maka saya pilih Mr. Lembaga Peranking B untuk bekerja dengan saya, dan tentunya dengan standar upah yang telah disepakati".

Mr. Lembagai Pranking B: "Senang bekerja sama dengan anda Mr. Bank".

.
.
.
.

Semua senang,

Bisnis kembali berjalan, bahkan dengan jangkauan pasaran yang lebih luas dari sebelumnya. Dan akhirnya, Mr. Bank pun benar-benar bisa menikmati zona nyamannya sambil mengawasi mesin uang yang telah dibangunnya terus berputar menghasilkan keuntungan setiap hari. Dan dengan tingkat penjualan rumah yang selalu meningkat, maka semua orangpun merasa optimis untuk mulai berinvestasi di bidang perumahan, trend masyarakatpun mulai berubah, masyarakat Amerika yang awalnya membeli rumah untuk tempat tinggal, kemudian mulai secara gila-gilaan terobsesi untuk memiliki rumah lebih dari satu, tidak hanya untuk tempat tinggal, melainkan juga digunakan sebagai alat investasi baik untuk disewakan ataupun dijual kembali. Melihat trend pasar yang terus berkembang tersebut Mr. Pengusaha pun juga tanpa ragu untuk terus membangun perumahan dalam skala yang jauh lebih luas lagi dan dengan harga yang jauh lebih mahal, toh akan selalu ada pembeli yang berminat untuk membelinya. 

tiga..

dua..

satu..

BOOM..

Tiba-tiba tingkat penjualan rumah menurun, kenapa?? karena minat masyarakat Amerika untuk membeli rumah sudah sampai pada titik jenuh, dimana jumlah rumah yang dibangun sudah melampaui jumlah kebutuhan yang diinginkan oleh masyarakat Amerika. Tidak hanya itu karena sebagian besar yang membeli rumah adalah para klien dengan tingkat ekonomi yang tidak stabil dan Karena harga rumah yang sudah terlalu tinggi, banyak masyarakat yang sudah tidak sanggup lagi untuk membayar cicilannya dan akhirnya lebih memilih untuk menyerah dan membiarkan rumah nya disita oleh bank. 

Seperti sebuah efek domino, kejenuhan masyarakat Amerika untuk membeli rumah juga berakibat pada Mr. Pengusaha, karena rumah yang telah dia buat sudah tidak laku lagi dan hutangnya tidak bisa dibayar ke pada Mr. Bank. Kaget, Mr. Bank yang melihat inipun langsung panik (marked crash) dan berusaha mati-matian untuk mencegah supaya uang pinjamannya dari pihak Federal Reserve dan para Investor tidak berubah menjadi tumpukan beton-beton yang tidak menghasilkan. Dengan segala upaya Mr. Bank harus menjual CDO nya kepada siapapun atau investor manapun yang ingin membeli, Tapi Mr. Super Kaya I, Mr. Super Kaya II, dan Mr. Super kaya tiga bukanlah orang bodoh, merekapun secara otomatis menolak dan tidak mau membeli lagi CDO yang ditawarkan Mr. Bank, bahkan Mr. Super Kaya II dan Mr. Super Kaya III berusaha mati-matian untuk meminta uang investasinya dikembalikan, walaupun sudah gagal. Untunglah Mr. Super Kaya I adalah tipe orang yang selalu mementingkan keamanan investasi, karena dia sudah mengasuransikan obligasinya, maka Mr. Super Kaya I bisa meminta uang jaminan atas kerugian dari hasil investasi obligasinya kepada Mr. Bank. Meskipun dengan berat hati, tapi Mr. Bank akhirnya mau memberikan uang jaminan yang diminta oleh Mr. Super Kaya I tersebut. Namun, semua upaya tersebut sudah terlambat, karena jumlah rumah yang dikembalikan kepada Mr. Bank sudah terlalu banyak, Mr. Bank mau tidak mau harus kembali menjualnya meskipun dengan harga yang lebih murah, karena jika tidak dijual seperti yang diperkirakan oleh Mr. Bank, rumah-rumah tersebut hanya akan menjadi beban baginya. Dan terpaksa Mr. Bank pun harus jual murah.

Sehingga, harga rumah yang awalnya di jual dengan sangat tinggi, tiba-tiba turun dengan drastis. 

Tidak berhenti sampai disitu, karena harga rumah yang turun secara drastis tersebut, maka para pembeli rumah yang masih masuk dalam kategori mampu bayarpun seketika juga ikut-ikutan untuk berhenti untuk melanjutkan cilican rumahnya. 

Mr. Rakyat Jelata II: "Untuk apa saya harus terus-terusan membayar cicilan rumah yang harganya jauh lebih tinggi daripada harga pasaran rumah saat ini".

Karena penurunan harga penjualan rumah, Mr. Pengusaha pun akhirnya terpaksa mengurangi jumlah karyawan yang diperkerjakan dalam membantu pembuatan rumah. Karena penuruhan harga penjualan rumah, toko-toko dan pabrik yang biasa memproduksi dan menjual peralatan-peralatan rumah pun kemudian sepi pembeli dan terpaksa melakukan pengurangan jumlah karyawan yang bekerja. Karena penurunan harga penjualan rumah, para pekerja konstruksi yang biasa bekerja dibidang pembangunan, perbaikan jalan, listrik, dan air pun terpaksa dikurangi jumlahnya. Karena penurunan harga penjualan rumah, para investor yang biasa berinvestasi dibidang properti, ataupun menggunakan propertinya untuk aset pensiun terpaksa harus menjual dan meninggalkan asetnya tersebut. Dan Karena jumlah kerugian yang sudah ditangung oleh banyak pihak tersebut sudah terlampau banyak, mulai dari para pembeli rumah, pengusaha rumah, pihak bank, investor, dan berbagai pihak lain yang terkait dalam skala nasional, akhirnya hal inipun berdampak pada Federal Reserve yang mengakibatkan pelemahan nilai tukar Dollar. Dan karena pelemahan tersebut, maka mulai terjadi PHK dan pengurangan pengawai secara besar-besaran karena banyak sektor yang terdampak karena hutang yang disebabkan oleh pelemahan nilai tukar Dollar tersebut bahkan diluar dari sektor perumahan itu sendiri. 

Kembali ke film The Big Short, ketika terjadi krisis tersebut ternyata tidak semua orang mengalami kerugian yang signifikan, beberapa malah ada yang mendapatkan keuntungan karena sudah melakukan analisis dan prediksi lebih dulu sebelum terjadi krisis, seperti yang dilakukan oleh Dr. Burry (Christian Bale), dimana tindakan yang ia lakukan adalah sama seperti yang dilakukan oleh Mr. Super Kaya I (mirip2 gitulah!!).

Setelah dari sinopsis film The Big Short, maka sekarang kembali lagi ke curhatan awal penulis tetang keinginan untuk membeli rumah. Apa yang bisa saya hubungkan tentang kondisi ekonomi terkait perkembangan properti Amerika dan Indonesia saat ini, 

tidak tahu!! haha,

5 komentar:

  1. whutt, sudah panjang lebar bacanya T.T, ternyata ga nyambung

    BalasHapus
  2. Menurut saya sih klo mau beli rumah ya langsung beli saja ga perlu nunggu, soalnya klo nunggu harganya malah keburu naik,,

    BalasHapus
  3. Klo melihat trend pasar sih emang iya, sekarang hampir harga-harga perumahan sudah pasti naik,

    BalasHapus
  4. Klo dipikir-pikir emang bener sih, hampir sebagian besar perumahan sekarang sedang gencar-gencar promo dp0%, tapi menurut saya itu malah resiko gagal bayarnya malah jadi lebih tinggi, ketimbang udah ada dpnya.

    BalasHapus
  5. Seneng lihat ceritanya, baru kali ini bisa dijelaskan masalah makro ekonomi dengan sangat sederhana..

    BalasHapus

Respon komentar 7 x 24 jam, so please be patient :D