Artikel Terbaru

4 Jenis Kesalahan yang Menyebabkan Laporan PTK Tertolak

Berikut ini dikemukakan bentuk-bentuk kesalahan atau kekurangan-kekurangan yang sering sekali terjadi atau sering dilewatkan pengamatannya oleh peneliti dalam proses pembuatan laporan penelitian. Tidak jarang kesalahan-kesalahan yang terjadi tersebut dapat membuat laporan yang telah selesai kita buat tertolak.

Lampiran Tidak Lengkap
Semua deskripsi dalam penelitian harus didukung dengan bukti berupa data-data yang akurat. Bukti tersebut bisa dalam bentuk dokumen-dokumen yang berkaitan dengan penelitian itu sendiri, misalnya, lembar evaluasi peserta didik, gambar, foto, dan lain sebagainya. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah melampirkan seluruh instrumen penelitian, baik dalam bentuk angket, transkrip wawancara, maupun hasil pengamatan yang ditunjukkan gambar ataupun foto.

Kesalahan yang sering terjadi adalah peneliti menganggap lampiran sebagai hal yang tidak penting, sehingga penyusunan lampiranpun terkesan asal-asalan bahkan ada sebagian rujukan yang tidak dapat dilampirkan dengan alasan hilang. Tentunya hal ini dapat menimbulkan keraguan tetang apakah deskripsi penelitian tersebut benar-benar sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya atau tidak. Untuk menghindari hal ini, maka lampiran harus disusun secara lengkap dan sistematis.

Jarak antara Pelaksanaan PTK dan Penilaian Terlalu Lama atau Kadarluarsa
Sangat penting untuk menyelesaikan kegiatan penelitian sesuai dengan batas waktu yang telah ditetapkan oleh peneliti itu sendiri, selain untuk mendapatkan hasil yang akurat, penelitian yang dilakukan secara tepat waktu juga menberikan hasil yang sesuai dengan masa sekarang atau up to date. Sering kali seorang penelit melakukan kegiatan penelitian terlalu lama, sehingga sampel atau data penelitian yang digunakan dalam kegiatan penelitian sudah menjadi usang atau tidak sesuai dengan kondisi yang terjadi saat ini.

Kerangka Penulisan Tidak Sesuai dengan Pedoman Penulisan Karya Tulis Ilmiah (KTI) yang Berlaku
Setiap lembaga atau penyandang dana penelitian mempunyai aturan main sendiri dalam penetapan kerangka penulisan PTK. Namun, satu hal yang jelas adalah semuanya harus mematuhi standar kerangka penulisan PTK yang telah ditetapkan secara baku. Para peneliti juga harus mengikuti pedoman yang berlaku dilembaga tempat menerbitkan karya ilmiah tersebut tersebut. Misalnya saja, sering kali didapati perbedaan antara pedoman penulisan PTK antara instansi seperti Depag dan Diknas.

Jika peneliti adalah seorang guru dibawah naungan Depag, maka PTK yang ditulis harus menggunakan pedoman dari Depag. Tetapi, jika peneliti adalah guru yang berada dibawah naungan Diknas, maka aturan penulisan yang harus diikuti adalah pedoman penulisan dari Diknas, itupun masih harus disesuaikan dengan aturan wilayah masing-masing. Bukan tidak mungkin, setiap provinsi memiliki aturan-aturan yang berbeda dalam menetapkan  kriteria penulisan laporan PTK.

Walaupun demikian, pada prinsipnya semua pedoman penulisan PTK adalah sama. Hal yang membedakan hanyalah teknis penulisannya. Oleh karena itu, hal ini seharusnya tidak perlu diperdebatkan. Hal yang terpenting adalah mengikuti prosedur yang ada sesuai dengan pedoman yang berlaku di wilayah masing-masing.

Kesalahan umum yang sering terjadi adalah peneliti menggunakan pedoman penulisan PTK yang tidak sesuai dengan aturan yang diterbitkan oleh lembaga atau instansi tempat publikasi dari karya penelitian tersebut dipublikasikan, sehingga akan terjadi koreksi terhadap karya ilmiah yang telah dibuat meskipun secara aturan tata bahasa Indonesia tidak terjadi kesalahan apapun dalam proses pembuatan laporan tersebut.

Tidak Mendapat Pengesahan dari Kepala Sekolah
Hal ini mungkin tampaknya sepele, tetapi sangat penting. Guru yang melakukan PTK harus mendapatkan izin dari kepala sekolah. Hal ini bukan untuk menghambat, tetapi justru untuk membantu guru itu sendiri. Upaya untuk memperbaiki proses pembelajaran dikelas akan berjalan dengan lebih lancar jika kegiatan penelitian telah mendapatkan ijin resmi kepala sekolah ataupun atasan lainnya. Inilah sebabnya, mengapa dalam sertifikasi terdapat poin penilaian dari atasan terhadap bawahan (kepala sekolah kepada guru). Hal ini juga untuk memantau kinerja guru apakah sudah sesuai dengan prosedur yang ada atau belum.

Komentar

  1. Bentuk penulisan kalimat ilmiah yang baik itu seperti apasih?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Penulisan kalimat ilmiah yang baik adalah kalimat tersebut ditulis secara jelas, dengan menghindari detail yang tidak perlu, dan ditulis secara sederhana dengan menggunakan bahasa langsung dan menghindari penggunaan kalimat-kalimat yang tidak jelas atau rumit.

      Hapus
  2. Karya tulis ilmiah merupakan salah satu bentuk teknik penulisan yang dirancang untuk mengkomunikasikan informasi ilmiah kepada ilmuwan lain melalui suatu prosedur penulisan tertentu yang sifatnya baku dan universal.

    BalasHapus
  3. Seberapa penting catatan penelitian dalam dunia ilmiah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selain untuk mengkomunikasikan hasil penelitian yang sudah jadi, karya tulis ilmiah juga menjadi dasar para ilmuan atau pembaca untuk mengemukakan suatu pendapat, pandangan, dan kritik lebih lanjut terhadap sesama profesional dan akademisi dalam berkomunikasi meskipun terpisah oleh jarak dan waktu. Namun, Hal yang paling penting adalah karya ilmiah yang telah ditulis oleh seorang peneliti tersebut dapat menjadi dokumentasi atau catatan permanen dari karya ilmiah yang telah diselesaikan oleh seorang peneliti dalam kegiatan penelitiannya.

      Hapus

Posting Komentar

Respon komentar 7 x 24 jam, so please be patient :D

Hot Artikel!!!

Enkapsulasi pada Java

6 Tahap Utama dalam Melakukan Kompilasi Program Hello World Java

6 Contoh Program Method Overloading pada Java