Metodologi Penelitian

Daftar isi buku riset dan penelitian
Buku Panduan Penelitian,
Buka [klik] dan pelajari semuanya!




Teori Pembelajaran Pendidikan
Teori Pembelajaran mendeskripsikan bagaimana para peserta didik menerima, memproses, dan mempertahankan sebuah pengetahuan selama proses belajar. Kemampuan kognitif, emosional, dan lingkungan, serta pengalaman peserta didik yang pernah dialami sebelumnya, semuanya berperan dalam bagaimana pemahaman dan kemampuan memahami lingkungan diperoleh, dan digunakan untuk mengubah berbagai bentuk pengetahuan dan keterampilan oleh peserta didik (Illeris, K. 2004) (Ormrod, J. 2012).

Ahli perilaku juga melihat bahwa belajar merupakan bagian dari aspek pengkondisian dan advokasi sebuah sistem dari penghargaan dan terget dalam dunia pendidikan. Seorang pendidik yang menganut paham teori kognitif percaya bahwa definisi dari pembelajaran sebagai aspek perubahan kebiasaan adalah sesuatu yang terlalu sempit, apalagi jika proses belajar tersebut hanya dipelajari dari aspek lingkungan peserta didik dan khususnya pada kompleksitas daya ingat para peserta didik saja. Mereka yang percaya dengan paham konstruktivisme bahwa kemampuan peserta didik untuk belajar sangat bergantung pada apa yang telah mereka ketahui dan pahami, dan perolehan pengetahuan tersebut merupakan proses konstruksi yang disesuaikan secara individu. Teori lain adalah teori pembelajaran transformatif berfokus pada perubahan yang sering diperlakukan dalam prakonsep dan sudut pandang manusia secara luas. Lain lagi dengan teori pembelajaran berbasis geografis berfokus pada konteks dan lingkungan yang membentuk suatu proses pembelajaran pada peserta didik.

Di luar ranah psikologi pendidikan, ada juga teknik lain yang digunakan untuk secara langsung untuk mengamati fungsi otak selama prose pembelajaran. Teknik tersebut seperti sebuah pencitraan resonansi magnetik potensial dan fungsional yang terkait dengan suatu peristiwa yang dialami oleh peserta didik, dimana hasil dari pengamatan tersebut kemudian digunakan dalam dunia pendidikan ilmu saraf. Teori lain juga seperti teori kecerdasan ganda, dimana pembelajaran dipandang sebagai suatu interaksi antara lusinan area fungsional yang berbeda pada otak peserta didik dengan kekuatan dan kelemahan dari peserta didik itu sendiri pada setiap proses belajarnya (Willingham, D.T., Hughes, E.M., Dobolyi, D.G. 2015) (Pashler, H., McDaniel, M., Rohrer, D., Bjork, R.A. 2008).

Filosofi Pendidikan

Teori Klasik Plato
Plato (428 SM-347 SM) pernah mengemukakan sebuah pertanyaan: Bagaimana seorang individu belajar sesuatu hal yang baru ketika topik hal tersebut adalah sesuatu yang baru bagi individu itu sendiri? Pertanyaan ini mungkin sifatnya sepele, namun, coba bayangkan jika manusia adalah sebuah komputer dan diberi pertanyaan seperti yang dikemukakan oleh Plato tersebut. Maka pertanyaan awal yang dikemukakan plato akan berubah menjadi: Bagaimana sebuah komputer mengambil segala macam informasi faktual tanpa dilakukan pembuatan program komputer sebelumnya? Maka Plato kemudian menjawab pertanyaannya tersebut dengan menganggap bahwa pengetahuan adalah sebuah karunia yang dibawa ketika lahir dan segala informasi yang dipelajari oleh seorang individu adalah bentuk pengumpulan ulang dari sesuatu yang sudah dibawah atau telah dimiliki oleh jiwa individu tersebut sebelumnya (Phillips, D.C., Jonas, F.S. 2009), dimana dari jawaban tersebut kemudian dikenal dengan Teori Recollection atau Platonic epistemology (Silverman, A. 2014). Jawaban dari Plato tersebut juga dapat dibenarkan melalui sebuah paradoks: Jika seseorang mengetahui tentang sesuatu, maka dia tidak perlu mempertanyakannya, dan jika seseorang tidak mengetahui tentang sesuatu, maka dita tidak tahu cara untuk mempertanyakannya (Silverman, A. 2014). Plato juga mengatakan, bahwa jika seseorang tidak mengetahui sesuatu dimasa lampau, maka dia tidak akan pernah bisa mempelajarinya dimasa depan. Plato mendeskripsikan bahwa belajar merupakan sebuah proses pasif, dimana informasi dan pengetahuan sudah terkunci di dalam diri seorang individu seiring perjalanan waktu. Namun, Plato juga akhirnya menemukan lebih banyak pertanyaan lain terkait ilmu pengetahuan: Jika kita hanya bisa mempelajari sesuatu ketika kita sudah memiliki pengetahuan yang sudah tertanam di dalam jiwa kita, maka bagaimana jiwa kita tersebut memperoleh pengetahuan tersebut sebelumnya? Teori Plato ini kedengarannya semakin berbelit, namun, teori klasik dari Plato tersebut masih dipergunakan oleh para ahli dalam memahami ilmu pengetahuan yang ada sampai saat ini (Phillips, D.C., Jonas, F.S. 2009).

Teori Klasik Locke
Jonh Lokce (1632-1704) memberikan jawaban atas pertanyaan Plato tersebut secara lebih baik. Locke mengemukakan sebuah teori "blank state" dimana manusia terlahir ke dunia ini tanpa memiliki suatu pengetahuan bawaan apapun, namun dengan kondisi yang siap untuk menerima ilmu pengetahuan yang dipengaruhi oleh lingkungan (Brain, C. dan Mukherji, P. 2005). Para pemikir menjaga pengetahuan dan ide-ide orisinal tersebut dari dua buah sumber, yaitu sensasi dan refleksi. Sensasi memberikan wawasan tentang objek eksternal beserta dengan properti yang mengikutinya, sedangkan refleksi memberikan ide tentang kemampuan mental seseorang berupa kemampuan dan pemahaman (Dearden, R.F. 2012). Namun, dalam teori empirisme, sumber-sumber pengetahuan tersebut adalah pengalaman dan observasi langsung (Sherman, P. 2012). Teori Locke, sama halnya dengan Hume, menganggap bahwa seseorang menjadi empiris karena orang tersebut telah mencurahkan sumber pengetahuan manusia di dunia yang empiris.

Locke juga menyadari bahwa harus ada sesuatu yang lain yang harus ditampilkan terkait dengan ilmu pengetahuan. Namun, sesuatu tersebut bagi Locke, sama halnya seperti "mental power". Locke melihat kemampuan tersebut merupakan kemampuan biologis bawaan ketika seorang bayi terlahir kedunia. Seperti kemampuan bayi yang langsung mengetahui berbagai macam fungsi biologisnya ketika bayi tersebut lahir. Jadi ketika seorang bayi telah berhasil dilahirkan ke dunia, maka bayi tersebut otomatis memiliki pengalaman-pengalaman yang mengelilinginya dan semua pengalaman tersebut ditranskripkan ke dalam diri bayi tersebut. Segala pengalaman tersebut selanjutnya mencapai puncaknya dan akhirnya mampu mengabstraksikan sebuah gagasan. Teori yang dikemukan oleh Lokce tersebut selanjutnya dapat sangat membantu para pengajar dalam memahami pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik hingga saat ini (Phillips, D.C., Jonas, F.S. 2009).

Psikologi Pendidikan

Analisis Tingkah Laku
Istilah "behaviorisme" atau "ahli tingkah laku" diciptakan oleh John Watson (1878-1959). Dimana Watson mempercayai bahwa sudut pandang seorang behaviorisme merupakan cabang eksperimental science murni dengan tujuan untuk memprediksi dan mengontrol perilaku (Phillips, D.C., Soltis, J.F., Perspectives on learning pg. 22) (Good dan Brophey. Realistic Approach. p. 155.). Dalam sebuah artikel dalam Psyhological Review, menyatakan bahwa, "Tujuan teoretisnya adalah untuk memprediksi dan pengontrol perilaku. Introspeksi bukanlah bagian-bagian penting dari metode-metode tersebut dan nilai ilmiah datanya tidak bergantung pada kesiapan yang digunakan untuk interpretasi dalam hal kesadaran (Phillips, D.C. dan Soltis, J.F. 2009)."

Motodologi behaviorisme didasarkan pada teori yang hanya menjelaskan peritiwa yang terjadi secara umum, atau perilaku yang dapat diamati saja. B.F. Skinner memperkenalkan jenis lain dari behaviorisme yang disebut dengan behaviorisme radikal, atau analisis konseptual perilaku, yang didasarkan pada teori yang juga menjelaskan peristiwa pribadi, khususnya, pemikiran dan perasaan. Behaviorisme radikal membentuk bagian konseptual dari analisis perilaku.

Dalam analisis perilaku, pembelajaran adalah proses memperoleh perilaku yang baru melalui pengkondisian dan pembelajaran sosial.

Pembelajaran dan pengkondisian Analisis Tingkah Laku
Ada tiga tipe utama dari pembelajaran dan pengkondisian ini:

satu, Pengkondisian klasik, dimana tingkah laku berasal dari respon reflek untuk stimulus awal.
dua, Pengkondisian Operan, Dimana timulus awal dihasilkan dari suatu konsekuensi yang diikuti dengan tingkah laku melalui sebuah penghargaan dan hukuman.
tiga, Teori pembelajaran sosial, dimana observasi tingkah laku diikuti oleh suatu pemodelan.

Ivan Pavlov adalah penemu dari teori pengkondisian klasik. Ivan mengamati bahwa jika seekor anjing mengasosiasikan pengiriman makanan dengan jas lab putih atau dering bel, maka anjing tersebut akan mengeluarkan air liur, bahkan meskipun anjing tersebut tidak mencium adanya bau makanan atapun penglihatan terhadap makanan sekalipun. Pengkondisian klasik menganggap bahwa bentuk pembelajaran adalah sesuatu yang sama pada makhluk hidup, baik jika dikondisikan pada hewan ataupun juga pada manusia (Myers, D.G. 2008)

Pada pengkondisian Operan dilakukan dengan cara memperkuat perilaku melalui pemberian hadiah dan hukuman. Hadiah bertujuan untuk meningkatkan kemungkinan suatu tingkah laku akan muncul lagi secara dan berulang, sedangkan hukuman bertujuan sebaliknya untuk mengurangi kemungkinan munculnya suatu tingkah laku yang berulang (Myers, D.G. 2008)

Sendangkan pada teori pembelajaran sosial dilakukan suatu pengamatan perilaku yang diikuti dengan suatu pemodelan.

Ketiga teori pembelajaran tersebut membentuk dasar dari analisis tingkah laku terapan, berupa penerapan analisis tingkah laku yang menggunakan suatu stimulus yang dianalisis berupa analisis fungsional, strategi perilaku pengganti, dan juga pengumpulan dan penguatan data untuk mengubah suatu tingkah laku. Praktik  tersebut disebut juga sebagai modifikasi tingkah laku, yang hanya menggunakan stimulus dan konsekuensi yang diasumsikan untuk mengubah perilaku tanpa mengakui analisis konseptual, dengan melakukan analisis fungsi tingkah laku dan pengajaran tingkah laku baru yang akan melayani suatu fungsi yang selalu sama dan tidak pernah relevan dalam proses modifikasi tingkah laku itu sendiri. 

Behaviorisme melihat bahwa proses belajar adalah faktor pengubah dalam suatu tingkah laku, dan mengatur tingkah laku tersebut untuk memperoleh tanggapan yang diinginkan melalui suatu perangkat seperti tujuan tingkah laku, pembelajaran berbasis kompetensi, dan pengembangan pelatihan keterampilan (Smith, M.K. 2011). Pendekatan lain seperti Intervensi Perilaku Intensif Dini, Pengukuran berbasis kurikulum, dan instruksi langsung juga telah muncul pada model ini (Kim, T dan Axelrod, S. 2005).

Transfer of learning
Transfer of learning merupakan sebuah gagasan bahwa apa yang dipelajari di sekolah entah apapun kondisinya, maka dapat terbawa ke situasi lain yang berbeda pada waktu dan pengkondisian tertentu yang berbeda (Kleibard, H. 2004). Metode transfer merupakan fenomena pertama yang diujicobakan dalam dunia psikologi pendidikan. Edward Lee Thorndika merupakan pelopor awal dari penelitian transfer tersebut. Lee menemukan bahwa metode transfer of learning merupakan suatu hal yang sangat penting dalam proses pembelajaran, dan merupakan suatu fenomena yang jarang sekali terjadi. Lee kemudian melakukan suatu percobaan dimana subjek diminta untuk memperkirakan ukuran suatu bentuk benda tertentu dan kemudian perintahkan untuk mengganti bentuk dari benda tersebut. Hasilnya, ditemukan bahwa informasi sebelumnya yang dimiliki subjek penelitian tidak terlalu membantu subjek pada kegiatan penelitian tersebut, sebaliknya hal tersebut malah merupakan suatu penghambat bagi subjek pada kegiatan penelitian (Kleibard, H. 2004).

Salah satu penjelasan kenapa metode transfer tersebut tidak terjadi dalam kegiatan penelitian Lee karena seringkali hanya melibatkan dua faktor saja yaitu, surface structure dan deep structure. Surface structure adalah suatu cara dalam pembingkaian masalah, dan deep structure adalah langkah-langkah yang digunakan dalam penyelesaian masalah tersebut. Contoh, pada alur cerita soal matematika dilakukan pengubahan konteks pertanyaan dari menanyakan "berapa biaya untuk memotong rumbut" menjadi "berapa biaya untuk mengangkut tanah". Kedua pertanyaan tersebut memiliki suatu surface structure yang berbeda, tetapi langkah untuk menyelesaikan permasalahan tersebut adalah sama (deep structure-nya sama). Namun, dalam suatu kegiatan transfer of learning banyak orang yang hanya berfokus pada bagian surface structure-nya saja. Dimana, pada kenyataannya surface structure tersebut sebenarnya tidak terlalu penting dalam proses transfer of learning. Orang-orang banyak percaya bahwa surface structure memberikan latar belakang pengetahuan tentang bagaimana menyelesaikan suatu masalah. Akibatnya, hal tersebut membuat proses pemahaman terhadap struktur masalah yang jauh lebih mendalam (deep structure) menjadi kurang fokus. Bahkan jika seseorang mencoba untuk berkonsentrasi pada deep structure, proses transfer (of learning) kemungkinan masih tetap tidak akan berhasil karena deep structure biasanya tidak terlihat terlalu jelas perbedaannya. Oleh karena itu, surface structure menghalangi kemampuan seseorang dalam melihat masalah yang lebih mendalam pada proses transfer of learning yang telah dipelajari dalam peroses mengasilkan sebuah solusi bagi sebuah permasalahan baru (Willingham, D.T. 2009).

Pembelajaran Pedagogi saat ini berfokus pada penyampaian pengetahuan hafalan, terlepas dari konteks yang dapat memberikan suatu makna pada prosesnya. Karena itu, peserta didik sering mengalami kesulitan dalam proses transfer informasi yang sifatnya berdiri sendiri terhadap aspek lain dari pendidikan yang mereka jalani. Peserta didik membutuhkan lebih banyak daripada sekadar konsep abstrak pengetahuan mandiri. Peserta didik perlu dihadapkan pada pembelajaran yang sifatnya praktis dalam konteks aktifitas dan budaya yang otentik (Brown, J.S., Allan, C., dan Duguid, P. 1989). Kritik dari kognisi tersebut juga berpendapat bahwa, mendiskreditkan informasi yang sifatnya hanya berdiri sendiri akan membuat proses transfer of learning yang dapat melintasi batas dan waktu menjadi sesuatu yang tidak mungkin (Sfard, A. 1998). Harus ada keseimbangan antara penempatan pengetahuan bersamaan dengan proses pemahaman struktur materi yang lebih dalam, atau pemahaman tentang bagaimana seseorang sampai pada titik untuk bisa mengetahui dan memahami suatu informasi (Willingham, D.T. 2009).

Beberapa ahli juga mengatakan bahwa proses transfer of learning pada dasarnya adalah sesuatu yang tidak pernah terjadi sama sekali. Mereka percaya bahwa peserta didik mengubah apa yang telah mereka pelajari ke dalam suatu konteks yang baru. Para hali tersebut juga mengatakan bahwa proses transfer sudah terlalu banyak sebagai sebuah gagasan pasif. Mereka juga percaya bahwa peserta didik sebenarnya melakukan hal yang sebaliknya, yaitu secara aktif melakukan suatu perubahan pengetahuan yang sudah mereka memiliki dengan sendirinya. Peserta didik tidak hanya membawa pengetahuan dari kelas, melainkan juga mengkonstruksi pengetahuan tersebut sedemikian rupa sehingga peserta didik dapat memahaminya secara mandiri. Peserta didik mengubah informasi yang telah dipelajari dan menyesuaikannya dengan konteks perubahan yang mereka gunakan dalam pengetahuan tersebut. Proses transformasi ini dapat terjadi jika peserta didik merasa termotivasi dalam menggunakan pengetahuan tersebut. Sebaliknya, jika peserta didik tidak menemukan motivasi transformasi yang diperlukan, maka kecil kemungkinannya pengetahuan tersebut akan dapat bertransformasi (Larsen-Freeman, D. 2013).

Teknik dan keunggulan dari transfer of learning
Terdapat berbagai kondisi yang berbeda yang mempengaruhi transfer of learning pada suatu kelas (Cormier, S.M. dan Hagman, J.D. 2014). Kondisi tersebut termasuk berbagai fitur-fitur penugasan, fitur-fitur pembelajaran, fitur-fitur organisasi dan sosial dari aktifitas pembelajaran tersebut (McKeough, A. 2013). Fitur-fitur penugasan tersebut termasuk praktik melalui simulasi, pembelajaran berbasis masalah, dan kemampuan implementasi pengetahuan dalam suatu gagasan baru (McKeough, A. 2013). Fitur pembelajaran termasuk juga kemampuan untuk merefleksikan pengalaman, kemampuan berpartisipasi dalam kelompok diskusi, kemampuan praktik, dan kemampuan berpartisipasi dalam diskusi tertulis. Semua teknik tersebut berkontribusi pada kemampuan peserta didik untuk menggunakan transfer of learning (Cormier, S.M. dan Hagman, J.D. 2014). Terdapat beberapa teknik truktural yang dapat membantu peserta didik dalam proses transfer of learning dalam ruang kelas. Teknik struktural tersebut termasuk hugging dan bridging (Harris, S., Lowery-Moore, H., dan Farrow, V. 2008).

Hugging menggunakan teknik simulasi aktivitas untuk mendorong pembelajaran reflektif. Contoh dari teknik hugging adalah ketika seorang peserta didik berlatih mengajar atau ketika seorang peserta didik bermain peran dengan peserta didik yang lain. Contoh-contoh ini dapat mendorong suatu pemikiran kritis yang melibatkan peserta didik dan membantu mereka memahami apa yang sedang dipelajari yang merupakan salah satu dari tujuan transfer of learning (Harris, S., Lowery-Moore, H., dan Farrow, V. 2008) beserta kesulitan-kesulitan yang dialaminya.

Bridging adalah ketika instruksi mendorong pemikiran abstrak dengan membantu mengidentifikasi hubungan antara ide dan analisis dari hubungan tersebut. Contoh, ketika seorang pengajar membiarkan peserta didik menganalisis hasil tes mereka beserta cara mereka dalam mendapatkan hasil tersebut, termasuk juga waktu dan strategi belajarnya. Dengan melihat strategi belajar yang dilakukan sebelumnya peserta didik dapat menemukan strategi untuk meningkatkan kinerjanya dalam proses belajar. Proses ini adalah proses penting untuk dapat berhasil dalam kegiatan pratik hugging dan bridging (Harris, S., Lowery-Moore, H., dan Farrow, V. 2008).

Ada banyak manfaat dari transfer of learning yang dilakukan di ruang kelas. Salah satu manfaat utamanya adalah kemampuan untuk mempelajari tugas baru secara cepat. Hal ini sangat bermanfaat dalam kehidupan nyata seperti kemampuan berbahasa dan memproses ucapan. Transfer of learning juga sangat berguna dalam mengajari peserta didik untuk menggunakan pemikiran kognitifnya yang lebih tinggi dengan menerapkan pengetahuan latar belakang mereka pada suatu situasi yang baru (Yang, L., Hanneke, S., dan Carbonell, J. A Theory of Transfer Learning with Applications to Active Learning).

Kognitifisme
Teori Kognitifisme Gestalt
Teori kognitif dikembangkan dari teori Gestalt. Psikologi Gestalt dikembangkan di Jerman pada awal tahun 1900an oleh Wolfgang Kohler (Soltis, J. 2004) dan dibawa ke Amerika pada tahun 1920an. Kata 'Gestalt' dalam bahasa Jerman artinya adalah konfigurasi atau organisasi yang menekankan pada keseluruhan pengalaman manusia (Yount, W.R. 1996). Selama bertahun-tahun, psikologi Gestalt memberikan demonstrasi dan penjelasan tentang prinsip-prinsip dalam menjelaskan cara manusia mengatur sensasi yang dimilikinya ke dalam sebuah persepsi (Myers, D.G. 2008). Max Wertheimer, salah satu bapak pendiri Teori Gestalt, mengamati bahwa terkadang manusia menafsirkan suatu gerak ketika tidak terjadi gerak sama sekali (Boeree, G. "Gestalt Psychology"). Contoh, tanda power yang terdapat pada toko serba guna yang menandakan bahwa toko tersebut sedang buka atau sedang tutup dapat dilihat sebagai tanda dengan "lampu yang nyala konstan". Namun, lampu tersebut sebenarnya berkedip, setiap lampu telah diprogram untuk berkedip cepat dengan kecepatannya masing-masing. Tetapi, jika dilihat secara keseluruhan, tanda tersebut tampak seolah selalu menyala tanpa pernah berkedip sedikitpun. Jika dilihat secara lebih teliti dan terpisah, lampu akan mati dan menyala pada waktu yang telah ditentukan. Contoh lain dari teori tersebut adalah rumah yang terbuat dari material bata: Secara keseluruhan, rumah tersebut dipandang sebagai suatu struktur yang tersendiri, namun sebenarnya, rumah tersebut terdiri dari banyak sekali bagian yang lebih kecil atau spesifik dari komponen penyusunnya yang merupakan batu-bata tersendiri. Manusia cenderung melihat sesuatu dari sudut pandang yang holistik daripada memecahnya menjadi beberapa subunit yang lebih kecil.

Dalam teori Gestalt, para psikolog berpendapat bahwa alih-alih memperoleh pengetahuan dari apa yang ada di depan kita, kita lebih sering belajar dengan memahami suatu hubungan yang baru terhadap sesuatu yang lama (Boeree, G. "Gestalt Psychology"). Manusia pada dasarnya memiliki perspektif dunia yang unik, manusia memiliki kemampuan untuk menghasilkan pengalaman belajarnya sendiri dan menafsirkan informasi yang mungkin sama atapun juga berbeda terhadap manusia yang lain.

Para psikolog Gestalt mengkritik pandangan behaviorisme karena terlalu bergantung pada tingkah laku terbuka dalam menjelaskan proses pembelajaran. Mereka lebih mengusulkan untuk melihat suatu pola daripada peristiwa-peristiwa yang terisolasi (Merriam, S.B. 2007). Pandangan Gestalt tentang pembelajaran telah dimasukkan ke dalam apa yang kemudian disebut dengan teori kognitif. Dua asumsi kunci yang mendasari pendekatan kognitif tersebut adalah: bahwa sistem memori manusia adalah suatu prosesor informasi yang terorganisasi secara aktif, juga pengetahuan sebelumnya memainkan peran penting dalam proses pembelajaran. Ahli teori Gestalt percaya bahwa agar proses pembelajaran terjadi, pengetahuan sebelumnya juga harus ada dan terkait dengan topik yang sedang dipelajari. Ketika peserta didik sedang menerapkan pengetahuan yang mereka miliki sebelumnya ke dalam topik lanjutan, maka peserta didik tersebut dapat memahami arti dari topik lanjutan yang sedang mereka pelajari, dan proses pembelajaranpun dapat terjadi. Teori kognitif melihat melampaui perilaku individu sebagai bahan pertimbangan bagaimana memori manusia bekerja untuk mendorong pembelajaran, dan pemahaman tentang memori jangka pendek dan memori jangka panjang yang penting bagi peserta didik yang sekaligus dipengaruhi oleh teori kognitif itu sendiri. Para ahli teori tersebut memandang bahwa belajar merupakan suatu proses mental yang juga termasuk wawasan, pemrosesan informasi, memori, dan persepsi, dimana peserta didik berfokus pada pembangunan kecerdasan dan perkembangan kognitif. Pembelajaran secara individu lebih penting daripada pembelajaran lingkungan.

Teori Kognitif Lainnya
Setelah teori memori seperti model memori Atkinson-Shiffrin (Atkinson, R.C. dan Shiffrin, R.M. 1968) dan model memori kerja Baddeley (Baddeley, A.D., Hitch, G.J.L. 1974) ditetapkan sebagai kerangka teoritis dalam psikologi kognitif, kerangka kognitif baru dari cabang inipun mulai bermunculan pada tahun 1970an hingga tahun 1990an. Saat ini, para peneliti berkonsentrasi pada topik-topik seperti beban kognitif dan teori pemrosesan informasi. Teori-teori pembelajaran tersebut berperan dalam memengaruhi desain konstruksional pada psikologi kognitif (deJong, T. 2010). Dimana teori kognitif digunakan untuk menjelaskan topik-topik seperti perolehan peran sosial, kecerdasan dan memori yang berkaitan dengan usia.

Pada akhir abad ke-20, situated cognition muncul sebagai teori yang mengakui proses pembelajaran saat ini, terutama sebagai learning of transfer formal dan dekontekstual. Bredo pada tahun 1994 menggambarkan kognisi sebagai "pergeseran fokus dari 'individu dalam lingkungan' menjadi 'individu' dalam 'lingkungan' itu sendiri" (Bredo, E. 1994). Dengan kata lain, kognisi individu dianggap terkait erat dengan konteks interaksi sosial dan makna yang dibangun secara budaya. Belajar melalui perspektif ini, dimana proses mengetahui dan proses melakukan menjadi sesuatu yang tidak terpisahkan.

Banyak jenis pendidikan yang diterima oleh peserta didik terbatas pada budaya sekolah saja, tanpa mempertimbangkan budaya otentik yang berasal dari luar pendidikan itu sendiri. Kurikulum yang dibingkai oleh situasi kognisi dapat menghidupkan pengetahuan dengan menanamkan materi yang dipelajari dalam budaya yang akrab dengan peserta didik. Contoh, sintak formal dan abstrak dari masalah matematika dapat diubah dengan menempatkan masalah matematika tradisional ke dalam masalah cerita yang praktis. Hal ini memberikan kesempatan bagi para pengajar untuk memenuhi keseimbangan yang tepat antara pengetahuan yang situasional dan pengetahuan yang dapat dialihkan. Lampert pada tahun 1987 melakukan hal tersebut dengan cara meminta peserta didik mengekplorasi konsep matematika yang berkelanjutan dengan latar belakang pengetahuan mereka masing-masing (Lampert, M. 1986). Dia melakukannya dengan menggunakan uang dari semua peserta didik yang dikenal dan kemudian mengembangkan proses pembelajaran dengan cara memasukkan cerita yang lebih kompleks yang memungkinkan peserta didik untuk melihat berbagai solusi serta menciptakan solusi lainnya oleh mereka sendiri. Dengan cara ini, pengetahuan menjadi aktif dan berkembang saat para peserta didik berpartisipasi dan bernegosiasi melalui suatu situasi yang baru (Wilson, B.G., dan Karen M.M. 1999).

Konstruktivisme
Ditemukan oleh Jean Piaget, konstruktivisme menekankan pentingnya keterlibatan aktif dari peserta didik dalam membangun pengetahuan untuk diri mereka sendiri. Peserta didik dianggap menggunakan latar belakang pengetahuan dan konsep untuk membantu mereka dalam proses memperoleh informasi baru. Saat mendekati informasi baru tersebut, peserta didik menghadapi suatu kondisi hilangnya keseimbangan dengan pemahaman yang mereka miliki sebelumnya, dan ini menuntut perubahan dalam suatu struktur kognitif. Perubahan ini secara efektif menggabungkan informasi sebelumnya dan informasi baru untuk membentuk skema kognitif yang lebih baik. Kotruktivisme dapat berbasis subjektif dan kontekstual. Berdasarkan sebuah teori konstruktivisme radikal yang diciptakan oleh Ernst von Glasersfeld, dimana pemahaman bergantung pada interpretasi subjektif seseorang atas pengalaman sebagai lawan dari realitas objektif. Begitu pula dengan gagasan yang dikemukan oleh Willian Cobern tentang konstruktivisme kontekstual yang mencakup efek budaya dan masyarakat berdasarkan faktor pengalaman (Bodner, G., Klobuchar, M., dan Geelan, D. 2001).

Konstruktivisme bertanya mengapa peserta didik tidak belajar secara mendalam dengan mendengarkan guru, atau membaca dari buku teks. Untuk merancang lingkungan pengajaran yang efektif, para pelaku konstruktivisme percaya bahwa seseorang membutuhkan pemahaman yang baik tentang apa yang sudah diketahui oleh peserta didik ketika mereka masuk kelas. Kurikulum harus dirancang dengan cara dibangun atas latar belakang yang memungkinkan untuk dikembangkan secara bersama-sama (Smith, M.K. 2002). Pengajar dan peserta didik memulainya dengan suatu permasalahan yang sifatnya kompleks, serta juga diajarkan suatu keterampilan dasar sambil melakukan proses pemecahan terhadap masalah yang sedang diberikan (Yount, W.R. 1996). Teori lain dari John Dewey, Maria Montessori, dan David A. Kolb berfungsi sebagai dasar penerapan teori pembelajaran konstruktivisme di dalam kelas (Lombardi, S.M. 2011). Konstruktivisme memiliki banyak variasi seperti, pembelajaran aktif, pembelajaran penemuan, dan pembangunan pengetahuan (Devries, B., Zan, B. 2003). Dari semua versi tersebut tujuannya adalah mempromosikan eksplorasi bebas yang dilakukan peserta didik dalam suatu kerangka pada struktur tertentu. Guru atau pengajar bertindak sebagai fasilitator yang mendorong peserta didik untuk menemukan prinsip-prinsip untuk diri mereka sendiri dan untuk membangun pengetahuan dengan cara menjawab pertanyaan terbuka dan memecahkan masalah-masalah pada dunia nyata. Untuk melakukan ini, seorang guru harus mendorong keingintahuan dan kemampuan berdiskusi antar para peserta didik serta mempromosikan otonomi bagi diri mereka sendiri (peserta didik). Dalam ranah ilmiah, dalam lingkungan ruang kelas, konstruktivisme guru menyediakan data mentah dan bahan fisik untuk dikerjakan dan dianalisis oleh peserta didik (Books, Jacqueline, G., Brooks, M.G. 1999).

Teori pembelajaran transformatif
Teori belajar transformatif berusaha menjelaskan bagaimana manusia merevisi dan menafsirkan kembali sebuah makna (Taylor, E.W. 2008). Pembelajaran transformatif adalah proses kognitif yang memengaruhi perubahan dalam kerangka acuan (Mezirow, J. 1997). Kerangka acuan mendefinisikan pandangan kita terhadap sudut pandang kita melihat dunia, emosi biasanya juga sering kali dilibatkan dalam hal ini (Ileris, K. 2001). Orang dewasa biasanya memiliki kecenderungan untuk menolak ide apapun yang tidak sesuai dengan nilai, asosiasi, dan konsep khusus apapun terhadap diri mereka (Mezirow, J. 1997).

Educational neuroscience
Beberapa universitas di Amerika seperti Harvard, Johns Hopkins, dan University of Southern California mulai menawarkan jurusan dan gelar yang didedikasikan untuk pendidikan ilmu saraf atau Educational neuroscience dalam dekade pertama abad ke-21. Studi semacam ini berusaha untuk menghubungkan pemahaman proses otak dengan instruksi dan pengalaman yang dialami dalam kelas belajar (Wolf, P. 2010). Educational neuroscience menganalisis perubahan biologis pada otak dalam memproses informasi baru. Cabang ilmu ini melihat situasi lingkungan, emosional, dan sosial apa yang paling baik untuk membantu otak dalam menyimpan informasi baru melalui saraf penghubung atau neuron dan dendrit, serta tidak kehilangan informasi yang telah disimpan tersebut. Tahun 1990-an disebut "Dekade Otak", dimana terjadi kemajuan pesat dalam bidang ilmu saraf. Tiga metode dominan untuk mengukur aktivitas otak adalah potensi terkait peristiwa, pencitraan resonansi magnetik fungsional, dan magnetoencephalography (Sawyer, R.K. 2006).

Integrasi dan penerapan pada pendidikan tentang apa yang kita ketahui tentang otak diperkuat pada tahun 2000 ketika Federasi Guru Amerika menyatakan: "Sangat penting bagi kita untuk mengidentifikasi apa yang dikatakan sains tentang bagaimana orang belajar untuk meningkatkan kurikulum pendidikan" (Radin, J.P. 2009). Yang menarik dari bidang pendidikan baru tersebut adalah teknik pencitraan otak modern yang memungkinkan untuk mengamati otak saat sedang melakukan proses belajar. Kemudian muncul pertanyaan: dapatkah hasil studi ilmiah-saraf tentang bagaimana otak bekerja tersebut memberikan informasi yang berguna? (Rowland. 2010) Peneliti hanya bisa berharap bahwa teknologi dan cara baru dalam mengamati proses otak akan menghasilkan bukti ilmiah baru yang membantu menyempurnakan paradigma tentang apa yang dibutuhkan peserta didik dan cara belajar terbaik bagi mereka untuk belajar. Secara khusus, ini mungkin membawa strategi yang lebih terinformasi untuk mengajar peserta didik yang memiliki kesulitan atau kekurangan dalam kemampuan belajar.

Disiplin formal dan mental
Semua individu memiliki kemampuan untuk mengembangkan disiplin mental dan keterampilan pengamatan, kedua-duanya berjalan beriringan. Disiplin mental sangat penting dalam membentuk apa yang individu lakukan, katakan, pikirkan, dan rasakan. Hal ini merupakan sesuatu yang penting dalam hal pemrosesan informasi yang melibatkan kemampuan untuk mengenali dan menanggapi dengan tepat hal-hal atau informasi baru yang ditemukan individu, atau hal-hal lain yang baru juga diajarkan. Kepekaan merupakan hal yang penting dalam proses belajar berbagai aspek. Menjadi eka atau penuh dengan sikap perhatian berarti hadir dan terlibat dalam proses apa pun yang dilakukan pada kondisi tertentu (Sheahly. 2015). Menjadi penuh perhatian juga dapat membantu individu bersikap lebih kritis dalam berpikir, merasakan, dan memahami informasi baru yang sedang diproses untuk diserap. Pendekatan disiplin formal berusaha mengembangkan sebab penghubung antara kemajuan pikiran dengan pelatihan melalui paparan mata pelajaran abstrak disekolah seperti science, bahasa, dan matematika. Dengan paparan berulang terhadap peserta didik pada mata pelajaran tertentu, beberapa pesert adidik merasakan adanya perolehan pengetahuan yang berkaitan dengan science, bahasa, dan matematika, dan juga adanya suatu penguatan dan pengembangan lebih lanjut dari pola pemikiran yang diberikan sebuah kurikulum serta signifikansi yang jauh lebih besar terhadap peserta didik tersebut, agar peserta didik tersebut dapat lebih maju untuk jangka waktu mendatang. (Phillips, D.C., Jonas, F.S. 2009) Phillips dan Jonas F. Soltis memberikan beberapa skeptisisme terhadap gagasan ini. Skeptisisme mereka sebagian besar berasal dari perasaan bahwa hubungan antara disiplin formal dan kemajuan pikiran secara keseluruhan tidak sekuat yang dikatakan beberapa orang. Mereka menggambarkan skeptisisme mereka dengan berpendapat bahwa adalah bodoh untuk secara membabi buta berasumsi bahwa individu akan lebih baik dalam hidup, atau dalam melakukan tugas tertentu, karena mengambil kursus atau pelatihan tertentu, namun kegiatan tersebut tidak memiliki hubungan terhadap permasalahan kehidupan (yang mereka alami).

Multiple intelligences
Keberadaan kecerdasan majemuk atau multiple intelligences dikemukakan oleh seorang psikolog bernama Howard Gardner, yang menyatakan bahwa manusia memiliki berbagai jenis kecerdasan (Allen, I.E., J. Seaman, dkk. 2007). Asumsi ini merupakan teori yang telah menjadi mode dalam kursus pelatihan pengembangan profesional berkelanjutan yang biasa diterapkan bagi para guru atau pengajar. Namun, teori kecerdasan ganda ini sering dikutip sebagai contoh 'pseudosains' (ilmu science yang mengadi-ngadi :D ) karena tidak memiliki bukti empiris atau falsifiabilitas terhadap dasar teori tersebut (Howard-Jones, P. 2010) (Gottfredson, L. ).

Multimedia learning
Pembelajaran multimedia mengacu pada penggunaan bahan ajar visual dan auditori yang juga termasuk media video, komputer, dan teknologi informasi lainnya (Mayer, R.E. 2009). Teori pembelajaran multimedia berfokus pada prinsip-prinsip yang menentukan keefektifan penggunaan multimedia dalam pembelajaran, dengan penekanan pada penggunaan saluran visual dan auditori untuk pemrosesan informasi.

Saluran pendengaran berhubungan dengan informasi yang didengar, dan saluran visual berhubungan dengan informasi yang terlihat. Saluran visual menyimpan lebih sedikit informasi daripada saluran pendengaran (Digital Turn in Schools Research. 2019). Jika saluran visual dan pendengaran diberikan sajian informasi pengetahuan, maka pengetahuan tersebut akan lebih banyak yang bisa dipertahankan oleh otak manusia. Namun, jika terlalu banyak informasi yang disampaikan, prosesnya menjadi tidak efektif, dan informasi untuk memori jangka panjangpun tidak diperoleh. Pembelajaran multimedia berusaha memberi instruktur kemampuan untuk merangsang saluran visual dan pendengaran peserta didik, sehingga menghasilkan kemajuan yang lebih baik dalam proses pembelajaran (s4.brainpop.com).

Menggunakan game online untuk proses pembelajaran
Banyak pendidik dan peneliti percaya bahwa teknologi informasi dapat membawa inovasi pada instruksi pendidikan konvensional (Sitzmann, T. 2011). Banyak pengajar dan ahli teknologi mencari cara baru dan inovatif untuk merancang lingkungan belajar yang berpusat pada peserta didik secara lebih efektif dan juga mencoba untuk lebih melibatkan para peserta didik dalam kegiatan proses belajar. Sebuah asumsi menyatakan bahwa permainan online memiliki potensi dalam kegiatan pengajaran, pelatihan, dan proses pendidikan. Sarana ini juga dikatakan merupakan sarana yang efektif untuk mempelajari suatu keterampilan dan sikap yang tidak begitu mudah untuk dipelajari dengan metode hafalan (Michael, D., dan Chen, S. 2006).

Telah banyak penelitian yang dilakukan untuk mengidentifikasi keefektifan pembelajaran dengan metode pembelajaran berbasis game. Karakteristik pelajar dan hasil belajar kognitif telah diidentifikasi sebagai faktor kunci dalam penelitian tentang implementasi permainan atau game dalam proses pendidikan, seperti proses belajar bahasa melalui permainan online, ternyata memiliki hubungan yang kuat antara pengetahuan awal peserta didik terhadap bahasa yang dipelajari dan hasil belajar kognitif mereka. Bagi orang-orang yang memiliki pengetahuan bahasa yang telah dipelajari sebelumnya, keefektifan belajar dari permainan jauh lebih banyak daripada mereka yang tidak tahu atau kurang memiliki pengetahuan bahasa terhadap bahasa yang dipelajari tersebut (Yang, J.C., Hsu, H.F. 2013).

Teori pembelajran lainnya
Teori pembelajaran lain juga telah dikembangkan untuk tujuan yang lebih spesifik. Misalnya, Andragogy adalah seni dan science untuk membantu pelajar dewasa dalam proses pembelajaran. Konektivisme adalah teori pembelajaran berjejaring yang baru-baru ini berkembang dan berfokus pada proses pembelajaran sebagai alat untuk membuat koneksi atau keterhubungan. Teori Learning as a Network (LaaN) dibangun berdasarkan suatu konektivisme, teori kompleksitas, dan double loop learning. Ini dimulai dari peserta didik dengan sebuah pandangan bahwa belajar sebagai suatu ciptaan berkelanjutan dari jaringan pengetahuan yang bersifat pribadi (Verlag, S. 2010).

Learning style theories
Teori gaya belajar atau learning style theories mengusulkan bahwa individu belajar dengan cara yang berbeda, bahwa dengan gaya belajar yang berbeda dan pengetahuan tentang gaya belajar yang disukai peserta didik mengarah pada peningkatan pengetahuan yang lebih cepat dan lebih memuaskan (Smith, M., dkk. 2007). Namun, penelitian saat ini belum dapat menemukan bukti ilmiah yang kuat untuk mendukung premis utama teori gaya belajar tersebut (Coffield, F., dkk. 2004).

Affective Context Model
Orang mengingat bagaimana hal-hal yang membuat mereka dapat merasakan sesuatu dan menggunakan jejak emosional tersebut untuk menciptakan kenangan sesuai permintaan (Shackleton-Jones, N. 2019).

Teori Informal dan post-modern
Dalam teori yang memanfaatkan restrukturisasi kognitif, kurikulum informal mempromosikan penggunaan pengetahuan sebelumnya untuk membantu peserta didik mendapatkan pemahaman konsep yang lebih luas (Marzano, R. 1991). Pengetahuan baru tidak dapat disampaikan kepada peserta didik, melainkan, pengetahuan yang dimiliki oleh peserta didik itu sendirilah yang akan disampaikan (Marzano, R. 1991). Dengan cara ini, peserta didik melakukan penyesuaian ide-ide yang mereka miliki agar lebih menyerupai teori atau konsep yang sebenarnya. Dengan menggunakan metode tersebut peserta didik memperoleh pemahaman luas yang diajarkan kepada mereka dan kemudian lebih bersedia untuk belajar dan menjaga kekhususan konsep atau teori tersebut. Teori ini selanjutnya selaras dengan gagasan bahwa mengajar konsep dan bahasa suatu mata pelajaran harus dibagi menjadi beberapa langkah (Brown, B., Ryoo, K. 2008).

Teori pembelajaran informal lainnya melihat dari sumber motivasi belajar (Deci, E.L. 1995). Motivasi intrinsik dapat menciptakan pelajar menjadi lebih mandiri, namun sistem sekolah (malah) merusak motivasi intrinsik tersebut (Wells, G. 2007). Kritikus berpendapat bahwa pembelajaran yang dilakukan dalam kondisi yang terisolasi secara signifikan adalah suatu hal yang kurang baik, jika dibandingkan dengan peserta didik yang belajar dengan suatu kolaborasi dan mediasi, karena peserta didik belajar melalui proses bicara, diskusi, dan argumentasi (Wink, J. 2002) (Vygotsky, L. 1986).

Educational anthropology

Philosophical anthropology
Menurut Theodora Polito, "setiap teori pendidikan yang terkonstruksi dengan baik pada pusatnya memiliki antropologi filosofis," yang merupakan "refleksi filosofis pada beberapa masalah dasar umat manusia" (Polito, T. 2005) (Padilla, G. J. 2013). Antropologi filosofis adalah sebuah eksplorasi sifat manusia dan kemanusiaan. Aristoteles, merupakan pengaruh awal dalam filosofi ini, dia menganggap sifat manusia sebagai sifat "hewani rasional", dimana sifat manusia berkaitan erat dengan sifat hewan tetapi masih dapat dipisahkan oleh kemampuan mereka untuk membentuk pemikiran yang rasional (Koterski, J.W. 2013). Antropologi filosofis memperluas ide-ide tersebut dengan menjelaskan bahwa rasionalitas, "ditentukan oleh kondisi biologis dan sosial dimana kehidupan manusia tersebut tertanam" (Padilla, G. J. 2013). Teori pembelajaran yang dikembangkan sepenuhnya membahas beberapa banyak "masalah dasar umat manusia" dengan cara memeriksa kondisi biologis dan sosial untuk memahami dan memanipulasi rasionalitas kemanusiaan dalam konteks pembelajaran (Padilla, G. J. 2013).

Antropologi filosofis terbukti dalam behaviorisme, yang membutuhkan pemahaman tentang kemanusiaan dan sifat manusia untuk menegaskan bahwa kesamaan antara manusia dan hewan lainnya sangat penting dan berpengaruh terhadap proses pembelajaran. (Phillips, D.C., Jonas, F.S. 2009) Kognisi terletak pada fokus bagaimana manusia berinteraksi satu sama lain dan terhadap lingkungannya, yang akan dianggap sebagai suatu "kondisi sosial" yang dieksplorasi dalam bidang antropologi filosofis. Teori pembelajaran transformatif (Phillips, D.C., Jonas, F.S. 2009) beroperasi dengan asumsi bahwa manusia adalah makhluk rasional yang mampu memeriksa dan mendefinisikan kembali perspektif, yang merupakan sesuatu yang sangat dipertimbangkan dalam dunia antropologi filosofis.

Kesadaran dan pemahaman tentang antropologi filosofis berkontribusi pada pemahaman dan praktik teori pembelajaran yang lebih besar. Dalam beberapa kasus, filsafat dapat digunakan untuk mengeksplorasi lebih lanjut dan mendefinisikan istilah-istilah yang tidak pasti dalam bidang pendidikan (Hirst, P.H. 1963). Filsafat juga bisa menjadi kendaraan untuk mengeksplorasi tujuan pendidikan, yang sangat dipengaruhi oleh teori pendidikan (Hirst, P.H. 1963).

Kritik
Kritikus teori pembelajaran yang juga berusaha untuk menggantikan praktik pendidikan konvensional, mengklaim bahwa teori semacam ini sudah tidak diperlukan sama sekali, bahwa upaya untuk memahami proses pembelajaran melalui konstruksi teori menciptakan masalah menghambat kebebasan pribadi dalam proses pembelajaran (Holzman, L. 1997) (Greenberg, D. 1987).

DAFTAR RUJUKAN